Sabtu, 08 Februari 2014

POLA ASUH ANAK

"Anakmu adalah Tanggung Jawabmu terhadap Tuhanmu, maka Asuhlah Dia dengan Pengasuhan Terbaik yang Mendekatkannya pada Tuhan dan membaikkan jiwanya" Eka cahya Maulidiyah



Menurut Steinberg, pengasuhan orang tua memiliki dua komponen, yaitu gaya pengasuhan (parenting style) dan praktek pengasuhan (parenting practices). Gaya pengasuhan didefinisikan sebagai sekumpulan sikap yang dikomunikasikan kepada anak dimana perilaku orang tua diekspresikan sehingga menciptakan suasana emosional,(Rohmah NW, 2013).
Diana Baumrind, 1971,1996 (dalam Santrock, 2009), seorang ahli terkemuka, berargumen bahwa orang tua tidak boleh menghukum ataupun menjauhkan diri. Melainkan, mereka harus mengembangkan peraturan untuk anak-anak dan pada saat yang bersamaan juga bersikap sportif dan mengasuh.
Baumrind (dalam Santrock, 2009) mengatakan bahwa terdapat empat bentuk utama gaya pengasuhan:
1.      Pola asuh otoriter (authoritarian parenting)
Bersifat membatasi dan menghukum. Orang tua yang otoriter mendesak anak-anak untuk mengikuti perintah mereka dan menghormati mereka. Mereka menempatkan batas dan kendali yang tegas terhadap anak-anak mereka dan mengizinkan sedikit komunikasi verbal. Sebagai contoh, orang tua yang otoriter mungkin berkata, “Lakukanlah menurut caraku. Tidak ada diskusi!” anak-anak dari orang tua yang otoriter sering berperilaku dalam cara yang kurang kompeten secara sosial. Mereka cenderung khawatir tentang perbandingan sosial, gagal untuk memulai aktivitas, dan memiliki ketrampilan komunikasi yang buruk.
2.      Pola asuh otoritatif (authoritave parenting)
Gaya pengasuhan yang positif yang mendorong anak-anak untuk mandiri, tetapi masih menempatkan batas-batas dan kendali atas tindakan mereka. Pemberian dan penerimaan verbal yang ekstensif dimungkinkan dan orang tua bersifat mengasuh dan mendukung.  
3.      Pola asuh yang mengabaikan (neglectful parenting)
Gaya pengasuhan tanpa keterlibatan orang tua, dimana orang tua menghabiskan sedikit waktu bersama anak-anak mereka. Berhubungan dengan ketidakcakapan sosial yang buruk.  
4.      Pola asuh yang memanjakan (indulgent parenting)
Gaya pengasuhan dimana orang tua sangat terlibat dengan anak-anak mereka, tetapi hanya menempatkan sedikit batasan atau larangan atas perilaku mereka. Orang tua ini membiarkan anak-anak mereka melakukan apa yang mereka inginkan dan mendapatkan apa yang mereka inginkan karena mereka yakin bahwa kombinasi dari pengasuhan yang mendukung dan kurangnya batasan, akan menghasilkan anak yang kreatif dan percaya diri. Hasilnya adalah anak-anak ini biasanya tidak belajar untuk mengendalikan perilaku mereka sendiri. Orang tua dengan pola asuh yang memanjakan tidak mempertimbangkan perkembangan anak secara menyeluruh.
Meskipun demikian, para peneliti menemukan bahwa beberapa kelompok etnis, aspek-aspek gaya pengasuhan otoriter diasosiasikan dengan hasil yang lebih positif bila dibandingkan apa yang diprediksikan Baumrind. Elemen-elemen gaya pengasuhan otoriter mungkin memiliki arti yang berbeda dan memiliki pengaruh yang berbeda tergantung pada konteksnya (Santrock, 2009).       
Jadi berdasarkan teori-teori yang dipaparkan di atas dapat didefinisikan bahwa pola asuh adalah sikap yang dikomunikasikan orang tua kepada anak untuk mengekspresikan kehendaknya, dimana terdapat macam-macam bentuk pengasuhan yang berbeda-beda tiap keluarga.

1 komentar:

  1. mba, maaf, boleh tau dari buku apa saja? terimakasih sebelumnya :)

    BalasHapus